El Chapo Dituding Suap Mantan Presiden Meksiko Rp1,4 Triliun

Presiden Meksiko Enrique Pena Nieto periode 2012-2018. (Foto: AFP)

New York: Gembong narkotika Joaquin “El Chapo” Guzman disebut pernah menyuap mantan Presiden Meksiko Enrique Pena Nieto sebesar USD100 juta atau setara Rp1,4 triliun di masa lalu. Pernyataan disampaikan seorang saksi dalam persidangan El Chapo di New York, Amerika Serikat, Selasa 15 Januari.

Pena Nieto menjadi presiden Meksiko dari 2012 hingga 2018. Alex Cifuentes, yang mengaku sebagai salah satu teman dekat El Chapo selama bertahun-tahun, berkata di pengadilan bahwa dirinya pernah menyampaikan perihal suap ini ke pihak berwenang pada 2016. 

El Chapo disebut sebagai gembong kartel Sinaloa, yang disebut tim jaksa sebagai pemasok narkoba terbesar dan terbanyak ke AS. Pria 61 tahun itu sudah menjalani persidangan di Brooklyn New York sejak November tahun lalu, usai dirinya diekstradisi dari Meksiko.

Dalam persidangan di AS, El Chapo menghadapi tuntutan penyelundupan kokain, heroin dan jenis narkoba lainnya. AS menganggap El Chapo sebagai gembong narkoba terbesar di dunia.

Baca: Operasi Kartel Sinaloa Tak Terganggu Sidang El Chapo

Dikutip dari laman BBC, Rabu 16 Januari 2019, Cifuentes mengklaim uang suap itu diberikan seorang teman El Chapo kepada Pena Nieto di Mexico City pada Oktober 2012. Pena Nieto disebut sempat meminta uang suap USD250 juta, namun akhirnya sepakat di angka USD100 juta.

Pernah menjadi “tangan kanan” El Chapo, Cifuentes adalah gembong narkoba asal Kolombia. Dia dan El Chapo pernah bersembunyi dari pengawasan polisi di pegunungan Meksiko selama dua tahun.

Usai ditangkap di Meksiko pada 2013, Cifuentes diekstradisi ke AS dan mengaku bersalah atas tuntutan penyelundupan narkoba.

Pena Nieto belum merespons tudingan suap ini. Namun sebelumnya ia pernah membantah tuduhan korupsi yang pernah disinggung dalam persidangan El Chapo pada November tahun lalu.

(WIL)

Tiga Bocah AS Tewas Terperangkap di Freezer

Ilustrasi jasad manusia. (Foto: Medcom.id)

Florida: Tiga bocah di Amerika Serikat meninggal dunia usai mereka masuk ke sebuah lemari pendingin jenis chest freezer. Ketiganya tewas karena tidak dapat keluar dari freezer yang masih menyala itu.

Dilansir dari laman ITV, Selasa 15 Januari 2019, ketiga korban — berusia satu, empat dan enam tahun — tidak dapat diselamatkan saat ditemukan. Ketiganya tinggal di sebuah rumah di Live Oak, North Florida.

Dalam sebuah tulisan di Facebook, kantor Sheriff Suwannee County mengatakan satu dari dua wanita yang tinggal di rumah itu pergi ke toilet saat ketiga anak itu bermain di luar rumah.

Ia mengaku tidak dapat menemukan ketiga anak itu di dalam rumah.

Pencarian berlanjut ke area luar rumah, dan ketiga anak ditemukan terbaring di dalam chest freezer yang berukuran besar. 

Sheriff Suwannee County mengatakan tidak ada unsur kriminal dalam kejadian ini. Kasus kematian tiga bocah ini akan dilimpahkan ke kantor kejaksaan setempat.

(WIL)

Pentagon Perpanjang Misi Perbatasan AS-Meksiko Hingga September

Perbatasan antara AS dan Meksiko. (Foto: AFP)

Washington: Militer Amerika Serikat (AS) akan memperpanjang misi untuk menjaga perbatasan AS-Meksiko hingga 20 September 2019. Pernyataan ini telah resmi dikeluarkan oleh Kementerian Pertahanan AS atau Pentagon.

Saat ini, ada sekitar 2.350 personel militer aktif yang ditugaskan menjaga perbatasan. Pentagon menyetujui perpanjang ini atas permintaan dari Departemen Keamanan Dalam Negeri AS.

Selain itu, ada sekitar 2.200 Pengawal Nasional yang turut mendukung operasi di perbatasan.

Penempatan pasukan AS di perbatasan Meksiko sebelumnya telah disahkan oleh mantan Menteri Pertahanan James Mattis. Awalnya, misi ini hanya diperpanjang hingga 31 Januari 2019.

Baca: Trump Izinkan Militer Tembak Imigran di Perbatasan

Tak hanya memperpanjang lama misi perbatasan, Pentagon juga akan memperluas jangkauan misi dengan menambahkan tugas pengawasan dan deteksi.

“Kemhan juga akan mengalihkan dukungan di perbatasan barat daya dari penguatan pintu gerbang masuk menjadi pengawasan dan pendeteksian gerak, serta pemasangan kawat berduri di gerbang masuk,” sebut pernyataan Pentagon, dikutip dari kantor berita AFP, Selasa 15 Januari 2019.

Selain itu, Pentagon juga akan melanjutkan pemberian dukungan udara. Misi ini telah dimulai sejak Oktober 2018 di mana para pengungsi asal Amerika Tengah mulai memasuki perbatasan untuk mencari kehidupan yang lebih baik di AS.

(WIL)

Protes Gaji, 30 Ribu Guru AS Mogok Mengajar

Ribuan guru berunjuk rasa Los Angeles, AS, 14 Januari 2019. (Foto: AFP/FREDERIC J. BROWN)

Los Angeles: Sedikitnya 30 ribu guru di Los Angeles, Amerika Serikat, Senin 14 Januari 2019, mogok mengajar karena merasa frustrasi atas besaran gaji serta tunjangan dan terbatasnya sumber daya kelas.

Para guru itu berunjuk rasa di sejumlah sekolah di LA, yang juga diikuti staf serta siswa sebagai bentuk solidaritas. Selama berpekan-pekan, sebuah serikat guru berseteru dengan Distrik Sekolah Bersatu Los Angeles (LAUSD) atas masalah gaji dan lainnya.

Unjuk rasa ini merupakan buntut dari pertemuan kedua pihak pada akhir pekan kemarin yang tidak menghasilkan kesepakatan apapun. Serikat Guru Los Angeles (UTLA), yang merepresentasikan sekitar 35 guru, sebelumnya telah beberapa kali menunda demonstrasi.

“Anda tidak dapat memprioritaskan murid terlebih dahulu jika guru diposisikan di urutan terakhir,” tulis UTLA di Twitter, seperti dilansir dari laman UPI.

Di beberapa sekolah di LA, kegiatan belajar mengajar tetap berjalan dengan digerakkan sejumlah relawan, guru pengganti, perawat, pegawai perpustakaan dan penasihat. Di 10 sekolah, staf non-pengajar ikut berunjuk rasa sebagai bentuk simpati, yang dapat membuat siswa kesulitan mendapat makan siang dan fasilitas lainnya.

Adrian Arella, seorang guru bahasa Spanyol, ikut serta dalam unjuk rasa. Ia mengaku ikut serta karena beberapa kelas miliknya diisi 46 siswa, yang menurutnya terlalu banyak.

Aksi mogok di Los Angeles pernah terjadi sebelumnya dalam skala nasional tahun lalu. Kala itu, aksi mogok terjadi di Arizona, Colorado, West Virginia dan Oklahoma.

(WIL)

Ivanka Trump Tak Dicalonkan sebagai Presiden Bank Dunia

Ivanka Trump. (Foto: AFP)

Washington: Seorang pejabat Gedung Putih memastikan bahwa Ivanka Trump tidak akan dicalonkan menjadi Presiden Bank Dunia. Pejabat anonim ini menegaskan kabar yang beredar, salah.

“Laporan itu salah. Yang benar adalah Ivanka Trump akan membantu mengelola pemilihan kandidat Amerika Serikat dari Presiden Donald Trump untuk posisi Presiden Bank Dunia,” kata pejabat tersebut, dikutip dari AFP, Selasa 15 Januari 2019.

Ia menambahkan, Menteri Keuangan Steven Mnuchin dan Kepala Staf Gedung Putih Mick Mulvaney yang meminta Ivanka untuk membantu memilih kandidat dari AS.

Baca: Ivanka Trump Diproyeksikan Jadi Presiden Bank Dunia

Dewan Eksekutif Bank Dunia menyatakan akan mulai menerima nominasi terhitung 7 Februari 2019. Para kandidat harus berkomitmen untuk mengimplementasikan tujuan pembangunan dan reformasi 2030 berdasarkan rencana modal 2018.

The Financial Times pertama kali melaporkan bahwa Ivanka Trump akan diproyeksikan menjadi Presiden Bank Dunia, menggantikan Jim Yong-kim yang mendadak mengundurkan diri.

Namun, kabar adanya nama Ivanka di daftar calon Presiden Bank Dunia, mendapat kecaman dari warganet di sosial media.

Sementara itu, banyak kandidat yang diproyeksikan untuk menggantikan Jim, salah satunya Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati dan mantan Menteri Keuangan Nigeria Ngozi Okonjo-Iwela.

(FJR)

Ratusan Pegawai Gedung Putih Berdemo Minta Shutdown Berakhir

Para karyawan Gedung Putih berdemo. (Foto: AFP)

Washington: Ratusan pegawai pemerintah yang menganggur akibat shutdown menggeruduk Gedung Putih. Mereka menuntut Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menghentikan shutdown.

Akibat shutdown pemerintahan, gaji para pegawai pun belum dibayar. Hingga hari ini, shutdown AS telah memasuki hari ke-24. 

Selain itu, para pegawai juga dipaksa cuti dan tidak mendapatkan gaji karena gaji mereka tertahan di Senat. “Kami ingin gaji kami!” teriak para pegawai di depan Gedung Putih.

Dilansir dari Washington Post, Selasa 15 Januari 2019, para pegawai Gedung Putih membawa spanduk dan papan bertuliskan ‘Trump: End the Shutdown’.

Shutdown pemerintahan ini disebabkan oleh tidak tercapainya permintaan dana yang diutarakan Trump untuk membangun tembok perbatasan AS dan Meksiko sebesar USD5,7 miliar atau setara dengan Rp80 triliun. Permintaan ini ditentang keras oleh Demokrat di Kongres.

Baca: Shutdown AS Berlanjut, Gedung Putih Nyaris Kosong

Ketika shutdown diberlakukan, sebanyak 800 ribu pegawai diperintahkan untuk tinggal di rumah dan tidak bekerja serta tidak mendapat gaji. 

Dalam beberapa kesempatan, Trump mengancam akan mendeklarasikan status darurat nasional agar tembok dapat dibangun tanpa melalui persetujuan kongres.

Kubu Demokrat dilaporkan sedang mencari cara legal untuk menghentikan segala bentuk percobaan oleh Trump yang bisa saja mendeklarasikan status darurat nasional di masa mendatang.

Dalam sejarah AS, shutdown terlama terjadi di bawah pemerintahan Presiden Bill Clinton pada periode 1995-1996. Kala itu, shutdown berlangsung 21 hari. 

(WIL)

Shutdown, Tamu Gedung Putih Disuguhi Makanan Cepat Saji

Washington: Karena banyak staf di Gedung Putih yang tidak masuk karena shutdown, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memesan ratusan makanan siap saji untuk menjamu Clemson Tigers, salah satu tim ternama American Football.

Shutdown adalah penutupan sebagian institusi pemerintah AS, yang kali ini dipicu perseteruan Trump dengan Partai Demokrat mengenai biaya pembangunan tembok perbatasan. Shutdown ini telah

“Karena shutdown, seperti yang sudah kalian semua ketahui, kami memesan fast food. Saya yang membayar,” ucap Trump, saat dirinya bersiap menyambut Clemson Tigers untuk merayakan kemenangan tim tersebut.

“Saya rasa mereka akan lebih menyukai (fast food) ketimbang apapun yang dapat kami berikan di sini,” lanjut dia, usai mendarat kembali di Gedung Putih setelah sehari sebelumnya mengunjungi New Orleans.

“Ada pizza, ada 300 hamburger, dan ada banyak, banyak sekali kentang goreng. Semuanya adalah makanan favorit kami. Saya ingin tahu ketika nanti saya kembali ke sini, apakah makanannya masih tersisa,” ungkap Trump, seperti dikutip dari laman AFP, Selasa 15 Januari 2019.

Saat ditanya apa makanan cepat saji favoritnya, Trump tersenyum dan berkata: “Saya suka semuanya. Jika itu makanan Amerika, saya suka. Ini semua buatan Amerika,” sebut dia.

“Alasan mengapa kami memesan fast food adalah karena shutdown. Kami ingin memastikan semuanya berjalan baik-baik saja, jadi kami memesan ini,” tambahnya.

Sekitar 800 ribu pegawai federal AS — termasuk staf Gedung Putih — menjalani cuti wajib atau bekerja tanpa dibayar. Hingga Senin 14 Januari, shutdown di AS sudah memasuki hari ke-24.

Dalam sejarah AS, shutdown terlama terjadi di bawah pemerintahan Presiden Bill Clinton pada periode 1995-1996. Kala itu, shutdown berlangsung 21 hari.

Baca: Trump Ingatkan Shutdown Dapat Berlangsung Selama Mungkin

(WIL)

Trump Bantah Pernah Bekerja untuk Rusia

Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin saat bertemu di Finlandia, Juli 2018. (Foto: AFP)

Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membantah keras telah bekerja untuk Rusia. Laporan ini pertama kali dikeluarkan oleh media The Washington Post.

Dalam laporan itu, disebutkan Trump sempat menyembunyikan terjemahan percakapannya ketika bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Sementara itu, menurut media New York Times, FBI pernah meluncurkan penyelidikan tersebut yang hingga saat ini tak pernah dilaporkan ke presiden.

“Saya tidak pernah bekerja untuk Rusia,” tegas Trump, dikutip dari AFP, Selasa 15 Januari 2019.

Kecurigaan FBI meningkat setelah Trump memecat direkturnya, James Comey pada Mei 2017. Lantas, penyelidikan tersebut diambil alih oleh Robert Mueller. 

Mueller juga memimpin penyelidikan yang sedang berlangsung terkait keterlibatan Rusia dalam kampanye Trump saat pemilihan presiden 2016 lalu.

Tak hanya itu, New York Times juga mencatat bahwa Trump pernah tertangkap sedang mengamati arahan dari pejabat pemerintah Rusia.

Trump juga membantah telah menyita catatan penerjemahnya sendiri setelah bertemu dengan Putin di Jerman pada Juli 2017. Ia menegaskan, semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut bisa mendengar percakapannya dengan Putin. 

(WIL)

Rahaf al-Qunun Memulai Kehidupan Baru di Kanada

Toronto: Rahaf Mohammed al-Qunun kini memiliki rumah baru untuk berlindung. Di Kanada, Qunun akan memulai lembaran baru kehidupannya setelah kabur dari keluarganya di Arab Saudi.

Upaya gadis remaja berusia 18 tahun itu untuk pergi dari keluarganya di Arab Saudi, menyita perhatian dunia. Qunun lega bisa memulai kehidupan baru, tetapi dia diperingatkan mengenai tantangan yang akan dihadapinya ke depan.

Baca juga: Kabur dari Keluarga, Wanita Saudi Ditolak Masuk Thailand.

Ada beberapa tantangan yang akan dihadapi Qunun, selain perbedaan budaya dan ketertinggalan yang harus ditempuhnya. Namun yang pertama, dirinya membutuhkan pakaian hangat untuk melawan udara Toronto yang dingin.

“Kondisinya baik saat ini dan sangat senang. Tetapi di saat bersamaan merasa gelisah dengan banyaknya hal baru yang akan dihadapi,” ujar Direktur Eksekutif Organisasi penempatan pengungsi (COSTI), Mario Calla, seperti dikutip The Globe and Mail, Senin, 14 Januari 2019.

Tibanya Qunun di Kanada mengakhiri mimpi buruk perjalanan mencari suaka. Pada 5 Januari, dia tiba di Thailand setelah bepergian dari Kuwait. Di Thailand, remaja itu mengaku kepada pihak berwenang setempat khawatir bahwa keluarga akan membunuhnya jika kembali ke Arab Saudi.

Begitu di Thailand, Qunun dilarang untuk masuk di Bangkok dan akhirnya mengurung diri di hotel bandara. Dari dalam bandara, dia pun menulis post di Twitter mengenai kondisinya dan akhirnya mengundang perhatian dunia.

Menurut keterangan aktivis pemerhati hak asasi manusia (HAM) di British Columbia, Yasmine Mohammed, Qunun sangat mengkhawatirkan keselamatannya karena ancaman melalui internet termasuk dari pihak keluarga. Sebelumnya pihak Kedutaan Arab Saudi di Thailand menyatakan tidak bisa menindak kasus Qunun, karena ini adalah masalah keluarga.

“Dia merasa kewalahan untuk saat ini dan sedikit syok karena apa yang dialaminya saat ini,” sebut Mohammed.

Untuk akomodasi Qunun di Kanada saat ini diatur oleh COSTI. Maria Calla menambahkan bahwa COSTI saat ini meningkatkan keamanan dan pengawal setiap remaja Arab Saudi itu berada di luar kediaman barunya.

Baca juga: Rahaf al-Qunun Takut Dibunuh Keluarga Karena Murtad.

Para pendukung Qunun mengatakan bahwa remaja itu sangat ingin segera mencari tempat untuk menetap bahkan mengikuti kursus bahasa Inggris serta berniat untuk sekolah. Tetapi ada satu masalah besar yang menjadi pertanyaannya saat ini yaitu, bagaimana dia bisa mencari nafkah.

Sementara ini Mohammed bersama dengan aktivis lain Ensaf Haidar dan Tarek Fatah, menggalang dana melalui kampanye GoFundMe untuk membantu Qunun. Dalam waktu 24 jam, sudah terkumpul uang USD11 ribu atau sekitar Rp155 juta.

Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau mengumumkan akan memberikan suaka kepada Qunun pada Jumat 11 Januari lalu. Menurutnya apa yang diakukan saat ini adalah pembelaan terhadap hak asasi manusia. Namun mantan Dubes Kanada untuk Arab Saudi tetap memperingatkan bahwa menerima Qunun adalah hal yang benar, tetapi kasusnya bisa menimbulkan masalah diplomatik dengan Negeri Petro Dolar.

(FJR)

Usai Tewaskan 7 Orang, Badai Salju Landa Washington DC

Seorang warga bermain ski di area US Capitol Hill di Washington, AS, 13 Januari 2019. (Foto: AFP/BRENDAN SMIALOWSKI)

Washington: Usai menewaskan tujuh orang di wilayah Midwest, Amerika Serikat, sebuah badai salju kini melanda Washington DC dan beberapa area di sekitarnya, Minggu 13 Januari. Badai ini diperkirakan akan terus terjadi hingga Senin ini, 14 Januari 2019.

Badan Cuaca Nasional AS (NWS) menyebut badai juga berpotensi memicu hujan salju di South serta North Carolina bagian barat hingga ke Virginia selatan.

Pakar meteorologi asal AccuWeather, Alex Sosnowski, mengatakan bahwa durasi badai salju di AS ini berpotensi cukup panjang, yakni sekitar 12 hingga 48 jam. 

Menurut laporan PowerOutage.us pada Minggu malam, seperti dinukil dari laman UPI, sekitar 100 ribu orang di North Carolina kehilangan daya listrik, dan 32 ribu pemadaman lainnya dilaporkan terjadi di Virginia.

Gubernur Virgnia Ralph Northam mendeklarasikan status darurat pada Sabtu kemarin, saat wilayahnya dilanda hujan salju dengan ketebalan antara 3 hingga lima inci. Di area St. Louis, sedikitnya empat orang tewas dalam kecelakaan terkait badai salju.

Tiga orang lainnya dilaporkan tewas dalam kecelakaan lalu lintas terkait badai pada Jumat kemarin di Kansas.

Departemen Transportasi Missouri mengingatkan warga untuk menunda perjalanan jika memang tidak terlalu penting. Pihaknya mengaku sudah membersihkan sejumlah ruas jalan dari salju agar petugas dapat menyalurkan makanan dan minuman kepada warga yang terjebak di dalam kendaraan.

Di Bandara Internasional Cincinnati/Northern Kentucky, sebuah pesawat maskapai Delta Air Lines tergelincir di landasan pacu menuju rerumputan usai mendarat pada Minggu, sekitar pukul 05.30 pagi waktu setempat. Tidak ada korban luka dari insiden tersebut.

(WIL)

Pentagon Pernah Diminta Rancang Serangan ke Iran

Foto udara memperlihatkan gedung Pentagon di Washington, AS. (Foto: AFP)

Washington: Kementerian Pertahanan Amerika Serikat atau Pentagon ternyata pernah menerima permintaan dari Gedung Putih untuk menyusun rencana serangan ke Iran tahun lalu.

Permintaan ini diterima setelah terjadinya dua insiden di Irak pada September 2018. Insiden pertama adalah saat sekelompok milisi Syiah menembakkan tiga mortir ke distrik diplomatik di Baghdad, di mana salah satu bangunan di sana adalah Kedutaan Besar AS.

Insiden kedua adalah peluncuran misil oleh pihak tak dikenal, yang mendarat di dekat gedung Konsulat Jenderal AS di kota Basra beberapa hari setelahnya.

Dewan Keamanan Nasional AS, dipimpin oleh penasihat keamanan John Bolton, adalah orang yang melayangkan permintaan tersebut kepada Pentagon. Menurut artikel di Wall Street Journal (WSJ), keseriusan dari permintaan ini membuat beberapa pejabat negara terkejut. 

Meski mempersiapkan kemungkinan adanya konflik di masa depan merupakan hal normal di AS, tapi keseriusan permintaan dari Bolton ini memicu kekhawatiran di Washington.

Menurut WSJ, seperti disitir oleh laman Independent, Senin 14 Januari 2019, mantan wakil penasihat keamanan AS Mira Ricardel menyebut dua insiden di Irak sebagai “tindakan perang,” sehingga Negeri Paman Sam perlu meresponsnya.

Saat ini Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo sedang melakukan tur Timur Tengah. Pompeo berniat mendatangi negara-negara mitra dan menjelaskan posisi AS terhadap sejumlah isu, termasuk soal Iran.

Iran sempat marah usai Pompeo mengumumkan pada pekan lalu bahwa Polandia akan menjadi tuan rumah konferensi internasional mengenai isu Teheran pada Februari mendatang. Merespons hal itu, Iran memanggil diplomat Warsawa di Teheran dan membatalkan acara festival film Polandia.

Menlu Iran Mohammad Javad Zarif menyebut rencana pertemuan di Polandia itu sebagai sebuah “sirkus.”

(WIL)

Trump Bantah Sembunyikan Detail Pertemuan dengan Putin

Presiden AS Donald Trump (kiri) dan Presiden Rusia Vladimir Putin tiba untuk berdiskusi di Helsinki, Finlandia, 16 Juli 2018. (Foto: AFP/BRENDAN SMIALOWSKI)

Washington: Presiden Amerika Serikat Donald Trump membantah menyembunyikan sejumlah detail percakapan saat bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin tahun lalu. Dia menegaskan “tidak menyembunyikan hal apapun.”

Surat kabar Washington Post menyebutkan dalam artikelnya bahwa dalam suatu kesempatan pada 2017, Trump sempat mengambil catatan penerjemah usai berdialog. Sementara dalam pertemuan dengan Putin di Helsinki pada 2018, Washington Post menyebut tidak ada catatan atas isi dari percakapan keduanya.

Dugaan adanya hubungan antara Trump dengan Rusia telah menjadi subjek investigasi federal yang masih berjalan hingga saat ini. Investigator yang dipimpin mantan kepala Biro Investigasi Federal (FBI) Robert Mueller mencoba mencari tahu mengenai ada tidaknya kolusi antara tim kampanye Trump dengan Rusia pada pemilihan umum 2016.

Sementara itu, media New York Times menyebut FBI telah membuka penyelidikan mengenai apakah Trump, secara sadar atau tidak, telah bekerja untuk Rusia usai dirinya memecat James Comey pada 2017. Comey adalah mantan kepala FBI.

Penyelidikan FBI ini kini digabungkan dengan investigasi Mueller.  “Saya tidak menyembunyikan apapun. Saya juga tidak terlalu peduli sebenarnya,” kata Trump kepada media Fox News.

Trump mengaku memang berbicara dengan Putin di Helsinki, tapi berlangsung seperti apa yang “dilakukan presiden lain” pada umumnya. Ia menyebut membicarakan “banyak hal positif” bersama Putin, salah satunya soal ekonomi.

“Siapapun bisa mendengar percakapan di pertemuan tersebut,” sebut Trump. “Pertemuan itu terbuka. Semua tuduhan soal Rusia ini adalah hoaks,” tegas Trump.

Dia mengaku kesal karena sudah berbicara dengan banyak tokoh dunia, tapi mengapa media hanya berfokus pada diskusinya bersama Putin.

Juru bicara Gedung Putih Sarah Sanders menyebut artikel soal isu Rusia dan Trump itu sangat tidak akurat, sehingga tidak perlu ditanggapi.

(WIL)

Satu Jam Ditahan, Pemimpin Oposisi Venezuela Bebas

Pemimpin oposisi di Venezuela, Juan Guaido. (Foto: AFP)

Caracas: Setelah kurang lebih satu jam ditahan, akhirnya pemimpin partai oposisi di Venezuela Juan Guaido, dibebaskan. Sebelum ditahan, ia sempat ditarik keluar dari kendaraannya oleh sejumlah pria.

Dalam sebuah video yang beredar di sosial media, sejumlah pria tersebut menggunakan topeng hitam dan menarik Guaido dari mobilnya ketika sedang berkendara ke Caraballedas, utara Caracas. Setelah itu, Guaido ditahan di kantor polisi.

Berita bebasnya Guaido pertama kali diumumkan oleh istrinya, Fabiana Rosales lewat Twitter. Ia berterima kasih karena warga Venezuela masih bereaksi dan mendukung suaminya yang menjadi korban kediktatoran Pemerintah Venezuela.

Dilansir dari BBC, Senin 14 Januari 2019, penahanan ini dilakukan usai Guaido mengatakan dirinya tak terima dengan pelantikan Nicolas Maduro untuk kedua kalinya menjadi Presiden Venezuela. Ia juga mengatakan siap menggantikan Maduro menjadi presiden.

Baca: Nicolas Maduro Resmi Dilantik Pimpin Venezuela

Selain itu, pihak oposisi juga menyatakan pelantikan Maduro tidak sah dan Guaido dipersiapkan untuk mengambil alih kepresidenan untuk sementara waktu.

Tak hanya Guaido, dua jurnalis yang meliput kasus ini juga turut ditahan. Mereka adalah Beatriz Adrian dari stasiun televisi Caracol Kolombia dan Osmary Hernandez dari CNN Spanyol. 

Meski demikian, Menteri Informasi Venezuela Jorge Rodriguez menentang tindakan ini. Menurutnya, badan intelijen dan polisi telah bertindak secara sepihak.

Secara tersirat, Rodriguez mengisyaratkan bahwa pemerintah telah kehilangan kendali atas pasukan keamanannya sendiri.

(WIL)

Ivanka Trump Diproyeksikan Jadi Presiden Bank Dunia

Ivanka Trump. (Foto: AFP)

Washington: Sejumlah media di Amerika Serikat (AS), termasuk The Financial Times melaporkan bahwa nama Ivanka Trump menjadi salah satu kandidat untuk menduduki posisi Presiden Bank Dunia.

Pasalnya, presiden sebelumnya, Jim Yong-kim, mendadak mengundurkan diri. Namun, adanya nama Ivanka di daftar calon Presiden Bank Dunia, mendapat kecaman dari warganet di sosial media.

Dilansir dari laman Guardian, Senin 14 Januari 2019, cemoohan tak hanya dilayangkan warganet, namun juga datang dari Anggota Kongres California Ted Lieu. 

“Yang paling memenuhi syarat memang hanya Ivanka Trump, yang telah kehilangan merek fashion miliknya dan kebetulan merupakan putri dari Presiden Donald Trump,” tulis Lieu. 

Baca: Sri Mulyani Dinilai Pantas Jadi Presiden Bank Dunia

Cibiran juga datang dari donatur Partai Demokrat, Tom Steyer yang turut mendanai kampanye pemakzulan Trump. “Ini adalah satu-satunya usulan paling konyol yang pernah saya dengar. Nepotisme hanyalah bentuk lain dari korupsi, saya tidak terkejut. Tapi tingkat keanehannya sangat menakjubkan,” kata Steyer.

Sebelum muncul sebagai calon Presiden Bank Dunia, Trump diberitakan akan mencalonkan putrinya tersebut menjadi Duta Besar AS untuk PBB, sebelum akhirnya ditetapkanlah mantan juru bicara Kementerian Luar Negeri AS Heather Nauert. 

Ivanka pernah menjadi Menteri Luar Negeri AS sementara pada Maret tahun lalu setelah Rex Tillerson dipecat dan pernah mendampingi Trump di KTT G20 di Hamburg, Jerman. 

Sementara itu, banyak kandidat yang diproyeksikan untuk menggantikan Jim, salah satunya Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati dan mantan Menteri Keuangan Nigeria Ngozi Okonjo-Iwela.

(WIL)